Antonio Conte tengah menjadi pembicaraan banyak media belakangan ini berkat kesuksesannya bersama Chelsea di Premier League 2016/2017. Dengan target awal yang "hanya" lolos zona Liga Champions, Conte malah sukses membawa Chelsea menjadi juara.
Tak hanya itu, dirinya juga sukses mengalahkan nama-nama tenar lainnya seperti Pep Guardiola dan Jose Mourinho yang sempat digadang-gadang menjadi calon terkuat dalam persaingan juara di Premier League 2016/2017.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, prestasi Conte malah lebih mengesankan lagi. Terbukti ketika dirinya masih menangani Juventus, dirinya sukses membawa Juventus yang baru promosi serta berkutat di papan tengah menjadi kekuatan utama di Italia seperti hal nya dulu.
Hal tersebut jelas menggambarkan kehebatan dari sosok Antonio Conte yang seolah-olah menjadi pelatih spesialis untuk menangkat tim yang tengah dalam peforma yang kurang maksimal.
Namun dibalik itu semua, Conte tetaplah manajer biasa. Dibalik segala kesuksesan yang telah dirinya raih, tetap ada satu kekurangan yang dirinya harus mampu perbaiki musim depan.
Ya, dibalik segala prestasi Antonio Conte dalam mengantarkan Juventus ataupun Chelsea menjuarai liga, dirinya masih belum bisa meraih gelar yang memiliki format cup-competition di sepanjang karir manajerialnya.
Hal ini tentulah cukup mengejutkan beberapa pihak, namun faktanya memang begitu. Semenjak awal karir kepelatihannya, Antonio Conte tak sekali pun memenangi kompetisi yang memiliki sistem cup.
Saat dirinya menangani Juventus (2011/2012 - 2013/2014) dirinya tak pernah sekalipun menjadi juara Copa Italia bersama Juventus, Tercatat prestasinya di Copa Italia adalah runner-up (2011/2012), semi-finalis (2012/2013) dan perempat-final (2013/2014). Melihat catatan tersebut tentulah cukup mengherankan apalagi pada saat itu, Juventus menjadi penguasa di Serie A.
Hal tersebut pun berlaku sama dengan saat dirinya menangani Chelsea musim ini. Walaupun dirinya sukses membawa Chelsea menjadi juara Premier League, kegagalan di final FA Cup tentu cukup mengejutkan.
Unik nya, hal yang dialami Conte ini seolah berbanding terbalik dengan seniornya, Carlo Ancelotti. Ya, jika Conte mampu menjuarai liga, Ancelotti justru menjadi pelatih spesialis cup-competition. Dilihat dari prestasinya, saat masih menangani AC Milan, Ancelotti "hanya" mampu juara Serie A 1 kali. Namun catatan itu diperindah oleh juara Copa Italia 1 kali, Liga Cahmpions 2 kali hingga Piala dunia antar klub 1 kali.
Belanjut di Chelsea, Ancelotti juga kembali sukses memberikan juara FA Cup yang dibarengi dengan juara Premier League. Selanjutnya di PSG barulah dirinya gagal menjadi juara di cup. Ancelotti cuma mempersembahkan juara Ligue1. Namun catatan itu kembali berlanjut saat dirinya di Real Madrid.
Tercatat selama di Real Madrid, Ancelotti tidak mampu meraih gelar La Liga, namun mampu menjadi juara Copa Del Rey, Liga Champios serta piala dunia antar klub masing-masing 1 kali. Sedangkan di musim pertamanya di Bayern, Ancelotti mampu menjadi juara di Bundesliga.
Hal diatas tentulah cukup unik dan menarik untuk dinantikan kelanjutannya. Namun untuk sementara, Conte adalah antitesis dari sosok Carlo Ancelotti dalam karir kepalatihannya. Hal ini tentulah tidak boleh berlanjut berlama-lama karena klub besar manapun mungkin saja bisa memberhentikan Conte karena terget juara Liga Champions tentu cepat atau lambat akan menjadi target utama yang harus dilaksanakan oleh Conte.


Comments
Post a Comment